Cara UPER Ajak Siswa SMA Pahami Transisi Energi lewat Belajar Berbasis Proyek

Isu transisi energi kerap dianggap terlalu berat untuk dipahami siswa sekolah menengah. Padahal, isu ini menyentuh banyak aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari sumber listrik yang digunakan di rumah, harga bahan bakar, hingga kebijakan lingkungan yang memengaruhi masa depan. Sayangnya, kemampuan sains dan matematika siswa Indonesia masih tertinggal dari rata-rata negara OECD berdasarkan hasil PISA 2022, sehingga dibutuhkan pendekatan belajar yang lebih dekat dengan realitas siswa agar isu kompleks seperti transisi energi bisa dicerna dengan baik.

Menjawab tantangan ini, Universitas Pertamina mengajak siswa SMAN 1 Depok mengenal transisi energi bukan lewat teori di buku, melainkan lewat pembelajaran berbasis proyek atau project-based learning (PBL). Program yang berlangsung pada Mei dan Juni 2026 ini merupakan hasil kolaborasi antara Program Studi Hubungan Internasional dan Teknik Logistik, didanai melalui hibah pengabdian masyarakat internal kampus.

Ketua tim program sekaligus dosen Hubungan Internasional UPER, Silvia Dian Anggraeni, menyampaikan bahwa pendekatan PBL sengaja dipilih agar siswa tidak sekadar menghafal konsep energi, tetapi mampu mengaitkannya dengan persoalan nyata di sekitar mereka. Siswa diajak berdiskusi, mempelajari studi kasus, lalu menuangkan pemahaman mereka ke dalam proyek infografis kelompok.

Pendekatan ini bukan tanpa dasar ilmiah. Sejumlah kajian akademik, termasuk meta-analisis terhadap puluhan studi pembelajaran berbasis proyek, menunjukkan metode ini secara konsisten mendorong peningkatan capaian akademik, kemampuan berpikir kritis, dan sikap belajar siswa. Hasil ini tercermin pula dalam program di SMAN 1 Depok, di mana skor rata-rata siswa naik dari 84,2 pada pre-test menjadi 89,38 pada post-test, atau meningkat lebih dari 6 persen setelah mengikuti rangkaian pembelajaran.

Puncak program ditandai dengan presentasi 16 kelompok siswa yang memaparkan proyek mengenai berbagai isu energi di hadapan tim dosen UPER. Enam kelompok terbaik mendapat apresiasi khusus berdasarkan kreativitas, kedalaman substansi, kemampuan komunikasi, dan inovasi gagasan yang mereka tawarkan.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menegaskan bahwa penguatan literasi energi bagi generasi muda perlu berjalan seiring dengan kemampuan berpikir kritis dan adaptif. Menurutnya, memahami energi bersih saja tidak cukup, siswa juga perlu dibekali kemampuan memecahkan masalah secara solutif. Semangat ini pula yang mendasari lahirnya peminatan Geopolitik dan Keamanan Energi di Program Studi Hubungan Internasional UPER, sekaligus menjadi wujud kontribusi kampus terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di bidang pendidikan berkualitas serta energi bersih dan terjangkau.

Program seperti ini menunjukkan bagaimana kampus dapat berperan aktif membentuk generasi muda yang tidak hanya melek isu energi, tetapi juga siap menghadapi tantangan transisi energi Indonesia ke depan. Bagi siswa SMA yang tertarik mendalami isu energi, hubungan internasional, hingga rekayasa logistik secara lebih mendalam, kuliah di kampus yang aktif mengintegrasikan isu-isu strategis ke dalam kurikulum bisa menjadi langkah awal yang tepat.

Tertarik menjadi bagian dari lingkungan akademik yang mendorong pembelajaran kontekstual seperti ini? Segera cek Pendaftaran Universitas Pertamina dan mulai langkah menuju masa depan yang lebih siap menghadapi tantangan energi bangsa.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *